Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Monday, February 19, 2018

Sejarah Singkat Pembentukan Bpupki dan Ppki

1. Pembentukan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia)
 Hasil gambar untuk bpupki
     Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dalam bahasa
Jepang disebut Dokuritsu Junbi Cosakai dibentuk oleh Jepang dan diumumkan oleh  Jenderal Kumakichi
Harada pada tanggal 1 Maret 1945.

       Pada tanggal 28 April 1945 diumumkan pengangkatan anggota BPUPKI di Gedung Cuo Sangi In di
Pejambon Jakarta (sekarang Gedung Departemen Luar Negeri). Ketua BPUPKI ditunjuk Jepang adalah
dr. Rajiman Wedyodiningrat, wakilnya adalah Icibangase (Jepang), dan sebagai sekretarisnya adalah R.P.
Soeroso. Jumlah anggota BPUPKI adalah 63 orang yang mewakili hampir seluruh wilayah Indonesia
ditambah 7 orang tanpa hak suara.
ANGGOTA BPUPKI 
  BPUPKI memiliki jumlah anggota sebanyak 67 orang. Beberapa diantarnya akan dibahas berikut ini.
  1. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat (ketua)
  2. R.P. Soeroso (Wakil Ketua)
  3. Ichibangse Yoshio (Wakil Ketua), orang jepang
  4. Ir. Soekarno
  5. Drs. Moh. Hatta
  6. Mr. Muhammad Yamin
  7. Prof. Dr. Mr. Soepomo
  8. KH. Wachid Hasyim
  9. Abdoel Kahar Muzakir
  10. Mr. A.A. Maramis
  11. Abikoesno Tjokrosoejo
  12. H. Agoes Salim
  13. Mr. Achmad Soebardjo
  14. Prof. Dr. P.A.A. Hoesein Djajadiningrat
  15. Ki Bagoes Hadikusumo
  16. A.R. Baswedan
  17. Soekiman
  18. Abdoel Kaffar
  19. R.A.A. Poerbonegoro Soemitro Kolopaking
  20. K.H. Ahmad Sanusi
  21. K.H. Abdul Salim
  22. Liem Koen Hian
  23. Tang Eng Hoa
  24. Oey Tiang Tjoe
  25. Oey Tjong Hauw
  26. Yap Tjwan Bing

a. Masa Persidangan Pertama BPUPKI (29 Mei–1 Juni 1945)

        Masa persidangan pertama BPUPKI dimulai pada tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan
1 Juni 1945 untuk membahas rumusan dasar negara untuk Indonesia merdeka. Pada persidangan
dikemukakan berbagai pendapat tentang dasar negara yang akan dipakai Indonesia merdeka. Pendapat
tersebut disampaikan oleh Mr. Mohammad Yamin, Mr. Supomo, dan Ir. Sukarno.

1) Mr. Mohammad Yamin (29 Mei 1945)

Pemikirannya diberi judul ”Asas dan Dasar Negara Kebangsaan Republik Indonesia” dan mengusulkan
dasar negara Indonesia merdeka yang intinya sebagai berikut:
a) peri kebangsaan;
b) peri kemanusiaan;
c) peri ketuhanan;
d) peri kerakyatan;
e) kesejahteraan rakyat.

2) Mr. Supomo (31 Mei 1945)

Pemikirannya berupa penjelasan tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan dasar negara
Indonesia merdeka. Negara yang akan dibentuk hendaklah negara integralistik yang berdasarkan pada
hal-hal berikut ini:
a) persatuan;
b) kekeluargaan;
c) keseimbangan lahir dan batin;
d) musyawarah;
e) keadilan sosial.

3) Ir. Sukarno (1 Juni 1945)

Pemikirannya terdiri atas lima asas berikut ini:
a) kebangsaan Indonesia;
b) internasionalisme atau perikemanusiaan;
c) mufakat atau demokrasi
d) kesejahteraan sosial;
e) Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kelima asas tersebut diberinya nama Pancasila sesuai saran teman yang ahli bahasa. Untuk selanjutnya,
tanggal 1 Juni kita peringati sebagai hari Lahir Istilah Pancasila.

b. Masa Persidangan Kedua (10–16 Juli 1945)

Masa persidangan pertama BPUPKI berakhir, tetapi rumusan dasar negara untuk Indonesia merdeka
belum terbentuk. Padahal, BPUPKI akan reses (istirahat) satu bulan penuh. Untuk itu, BPUPKI
membentuk panitia perumus dasar negara yang beranggotakan sembilan orang sehingga disebut Panitia
Sembilan. Tugas Panitia Sembilan adalah menampung berbagai aspirasi tentang pembentukan dasar
negara Indonesia merdeka.

Anggota Panitia Sembilan terdiri atas

1 Ir. Sukarno (ketua),
2. Drs. Moh. Hatta, (wakil ketua)
3. Abdulkaha Muzakir,  
4. K.H. Abdul Wachid Hasyim,
5. Mr. Moh. Yamin,
6. H. Agus Salim,
7. Ahmad Subarjo,
8. Abikusno Cokrosuryo, dan
9. A. A. Maramis.
Panitia Sembilan bekerja cerdas sehingga pada tanggal 22 Juni 1945 berhasil merumuskan dasar negara untuk Indonesia merdeka. Rumusan itu oleh Mr. Moh. Yamin diberi nama Piagam Jakarta atau Jakarta Charter. Naskah Piagam Jakarta berbunyi, seperti berikut. 

Piagam Jakarta

    Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di
atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

    Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan
selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang Negara Indonesia yang merdeka,
bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

    Atas berkat Rahmat Allah Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya
berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan menyatakan kemerdekaanya.

    Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Indonesia itu dalam suatu hukum
dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang
berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam
bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan
kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Pada tanggal 10 sampai dengan 16 Juli 1945, BPUPKI mengadakan sidang kedua. Pada masa
persidangan ini, BPUPKI membahas rancangan undang-undang dasar. Untuk itu, dibentuk Panitia
Perancang Undang-   Undang Dasar yang diketuai Ir. Sukarno. Panitia tersebut juga membentuk
kelompok kecil yang beranggotakan tujuh orang yang khusus merumuskan rancangan UUD. Kelompok
kecil ini diketuai Mr. Supomo dengan anggota Wongsonegoro, Ahmad Subarjo, Singgih, H. Agus Salim,
dan Sukiman. Hasil kerjanya kemudian disempurnakan kebahasaannya oleh Panitia Penghalus Bahasa
yang terdiri atas Husein Jayadiningrat, H. Agus Salim, dan Mr. Supomo. Ir. Sukarno melaporkan hasil
kerja Panitia Perancang Undang-Undang pada sidang BPUPKI tanggal 14 Juli 1945. Pada laporannya
disebutkan tiga hal pokok, yaitu pernyataan Indonesia merdeka, pembukaan undang-undang dasar, dan
undang-undang dasar (batang tubuh).

     Pada tanggal 15 dan 16 Juli 1945 diadakan sidang untuk menyusun UUD berdasarkan hasil kerja Panitia
Perancang Undang-Undang Dasar. Pada tanggal 17 Juli 1945 dilaporkan hasil kerja penyusunan UUD.
Laporan diterima sidang pleno BPUPKI.

2. Pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)


 
       Perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda terletak pada tata cara pelaksanaan kemerdekaan Indonesia. Sebenarnya cita-cita mereka sama yaitu mewujudkan Negara Indonesia merdeka. Golongan Tua dengan perhitungan politiknya berpendapat bahwa kemerdekaan Indonesia dapat dicapai tanpa pertumpahan darah apabila tetap bekerja sama dengan Jepang. Sedangkan Golongan Muda dengan jiwa kepemudaannya mengingin-kan kemerdekaan dicapai secara revolusioner untuk membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia dicapai dengan hasil jerih payah bangsa Indonesia sendiri dan bukan hadiah dari Jepang.

       Sementara itu kedudukan Jepang dalam Perang Dunia II semakin tidak menguntungkan. Negara-negara fasis semakin terdesak oleh kekuatan Sekutu setelah Jerman dan Italia kalah di benua Eropa. Pasukan Amerika semakin bertambah dekat dengan Jepang. Rusia mengumumkan perang terhadap Jepang. Pada tanggal 6 Agustus 1945 Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima . Pada tanggal 9 Agustus Rusia mengumumkan perang terhadap Jepang dan pada hari yang sama kota Nagasaki dijatuhi bom atom yang kedua. Kaisar Jepang, Hirohito (Tenno Heika) mulai menyadari bahwa ambisinya membangun imperium Asia Timur Raya tidak akan tercapai dengan adanya bom atom tersebut. Kaisar Jepang memerintahkan rakyat dan tentaranya menghentikan perang. Hal ini yang menjadi pertimbangan Sekutu untuk tidak menjatuhkan bom atom yang ke-3 di Tokyo.

        Pada tanggal 7 Agustus 1945 diumumkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Junbi Linkai) berdasarkan keputusan Jenderal Besar Terauci (Panglima Tentara Umum Selatan). Dengan diumumkan-nya pembentukan PPKI, maka BPUPKI dianggap telah bubar. Pemerintah Jepang mengisyaratkan bahwa dengan pembentukan PPKI bangsa Indonesia bebas berpendapat dan melakukan kegiatannya sesuai dengan kesanggupan-nya. Akan tetapi pemerintah Jepang tetap mengajukan syarat-syarat, yang antara lain:

a.Untuk mencapai kemerdekaan harus menyelesaikan perang yang dihadapi bangsa Indonesia, dengan turut membantu perjuangan bangsa Jepang memperoleh kemenangan akhir dalam Perang Asia Timur Raya.

b.Negara Indonesia yang merupakan anggota Lingkungan Kesemakmuran Bersama Asia Timur Raya, harus mempunyai cita-cita yang sama dengan pemerintah Jepang sesuai semangat Hakko-Iciu.

      Dalam keanggotaannya PPKI dipilih oleh Jenderal Besar Terauci, untuk itu dipanggillah tiga tokoh pergerakan nasional, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Radjiman Widyodiningrat. Pada tanggal 12 Agustus 1945 diadakan pertemuan di Dalat (Vietnam Selatan). Dalam pertemuan itu Jenderal Besar Terauci menyampaikan bahwa pemerintah Jepang telah memberikan kemerdeka-an bagi bangsa Indonesia dan untuk pelaksanaannya maka dibentuklah PPKI sambil menunggu persiapan selesai. Adapun wilayah Indonesia setelah kemerdeka-an meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda.
       PPKI terdiri atas 21 anggota yang terpilih dari seluruh Indonesia. Sebagai ketua PPKI adalah Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta sebagai wakilnya. Yang menarik di sini adalah seluruh anggota PPKI sama sekali tidak ada yang melibatkan Jepang.
       Pada tanggal 14 Agustus 1945 Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Radjiman Wediodiningrat telah kembali ke Jakarta. Sementara itu Golongan Pemuda telah mendengar bahwa Sekutu telah memberikan ultimatum kepada Jepang untuk menyerah tanpa syarat atau “Uncondional Srrender”. Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang mematuhi ultimatum tersebut dan menyerah tanpa syarat. Walaupun kekalahan tersebut sangat dirahasiakan, namun berkat ketangkasan para pemuda maka sampailah berita itu. 

Hasil Sidang PPKI 18 Agustus 1945

Sidang PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 tersebut dilaksanakan di Pejambon, Gedung Kesenian Jakarta (sekarang gedung Departemen Luar Negeri) yang dihadiri oleh semua anggota PPKI yang berjumlah 27 orang. Pada saat itu, suasana kebatinan dan situasi politik Indonesia telah berubah secara dramatis, menyusul proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. Sekitar pukul 11.30 sidang ini dibuka di bawah pimpinan Ir. Soekarno. Dalam sidang tersebut dihasilkan 3 keputusan penting tentang kehidupan ketatanegaraan serta landasan politik Negara Indonesia yang merdeka, yaitu:

1. Mengesahkan UUD 1945

Mengesahkan UUD 1945 sebagai konstitusi bangsa Indonesia adalah salah satu keputusan sidang PPKI saat itu. UUD disusun dan digunakan sebagai alat untuk mengatur dan menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pada saat itu, UUD 1945 terdiri atas tiga bagian, yaitu sebagai berikut:
  • Pembukaan atau mukadimah
  • Batang Tubuh atau isi yang terdiri atas 16 bab, 37 pasal, 4 pasal aturan peralihan dan 2 ayat aturan tambahan.
  • Penjelasan UUD yang terdiri atas penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal.

2. Memilih Presiden dan Wakil Presiden Indonesia

        Hasil sidang selanjutnya dari PPKI adalah memilih pemimpin negara (Presiden dan wakilnya). Pemilihan umum tidak diselenggarakan karena saat itu negara dalam situasi darurat. Soekarno dan Moh. Hatta secara aklamasi terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama. Terpilihnya Soekarno-Hatta tidak lepas dari peran Otto Iskandardinata. Dialah yang mengusulkan agar Soekarno dan Moh. Hatta dipilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI. Usul itu kemudian disetujui oleh PPKI dan dengan suara bulat semua peserta sidang menyetujuinya. 

3. Sebelum MPR terbentuk, tugas Presiden dibantu oleh Komite Nasional

Secara organisasi, Komite Nasional dalam sidang ini belum terbentuk. Jadi, hasil sidang ini merupakan bentuk rekomendasi untuk ditindaklanjuti pada sidang-sidang berikutnya.

Berdasarkan hasil-hasil sidang PPKI di atas, maka secara ketatanegaraan berdirinya Negara Republik Indonesia sudah memenuhi persyaratan utama, yaitu rakyat, wilayah, dan pemerintahan, yakni Presiden dan Wakil Presiden.

Wednesday, November 29, 2017

Sejarah Terhadap Perkembangan Kekuasaan Bangsa Eropa di Indonesia Secara Singkat

Sejarah Terhadap Perkembangan Kekuasaan Bangsa Eropa di Indonesia Secara Singkat - Selamat datang di Loker ilmu, Waktu itu kita telah membahas tentang latar belakang kedatangan bangsa eropa dan jepang ke indonesia.


Perkembangan kekuasaan bangsa eropa di Indonesia terbagi menjadi beberapa macam, yaitu :


- Kekuasaan Bangsa Portugis di Indonesia
- Kekuasaan VOC di Indonesia
- Kekuasaan Daendels di Indonesia
- Kekuasaan Bangsa Inggris di Indonesia
- Pemerintahan Kolonial Belanda

Hindia Timur atau Indonesia telah lama dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah seperti vanili, lada, dan cengkeh. Rempah-rempah ini digunakan untuk mengawet makanan, bumbu masakan, bahkan obat. Karena kegunaannya, rempah-rempah ini sangat laku di pasaran dan harganya pun mahal. Hal ini mendorong para pedagang Asia Barat datang dan memonopoli perdagangan rempah-rempah.

Mereka membeli bahan-bahan ini dari para petani di Indonesia dan menjualnya kepada para pedagang Eropa. Namun, jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 ke Turki Utsmani mengakibatkan pasokan rempah-rempah ke wilayah Eropa terputus. Hal ini dikarenakan boikot yang dilakukan oleh Turki Utsmani. Situasi ini mendorong orang-orang Eropa menjelajahi jalur pelayaran ke wilayah yang banyak memiliki bahan rempah-rempah, termasuk kepulauan Nusantara (Indonesia). Dalam perkembangannya, mereka tidak saja berdagang, tetapi juga ingin menguasai sumber rempah-rempah di negara penghasil, yaitu Indonesia.

Kekuasaan bangsa Portugis di Indonesia
Armada Portugis berikutnya yang mencoba berlayar ke Indonesia dipimpin oleh Vasco da Gama. Mereka berangkat pada tahun 1497 dan berhasil melewati Tanjung Harapan Baik. Sewaktu tiba di Pelabuhan Malinda (Afrika Timur), mereka bertemu dengan pedagang-pedagang Arab dan India. Namun, jalan ke Asia Tenggara tetap dirahasiakan oleh para pedagang tersebut. Oleh karena itu, orang-orang Portugis melanjutkan perjalannya menyusuri pantai timur Afrika. Mereka harus melewati perairan dengan ombak yang sangat besar.

Daerah itu terletak di timur laut Afrika terutama di sekitar Ujung Tanduk. Oleh karena itu, daerah ini disebut Guadafui (berhati-hatilah). Ekspedisi ini kemudian berhasil melewati selat di ujung selatan Laut Merah yang disebutnya Bab el Mandeb (Gapura Air Mata). Pada tahun 1498, Vasco da Gama tiba di Kalikut (India). Sejak saat itu, perdagangan antara orang Eropa dan India tidak lagi melalui jalur Laut Tengah melainkan melalui pantai timur Afrika.

Namun, penemuan ini belum juga memuaskan bangsa Portugis. Mereka ingin menjelajahi daerah timur lainnya yakni Malaka dan Maluku. Pada waktu itu, di Asia Tenggara terdapat salah satu daerah pusat perdagangan yang sangat ramai dikunjungi. Daerah tersebut adalah Malaka sedangkan daerah sumber rempah-rempahnya adalah Maluku. Bagi Portugis, cara termudah menguasai perdagangan di sekitar Malaka termasuk di Maluku adalah dengan merebut atau menguasai Malaka. Kolonialisme Portugis di Indonesia dimulai sejak kedatangan Alfanso d’Albuquerque di Maluku. Pada tahun 1511, ekspedisi Portugis di bawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque berhasil menaklukkan Malaka. Dari sana, mereka menuju Maluku dan diterima dengan baik oleh raja Ternate.

Bangsa Portugis berhasil merebut beberapa pelabuhan penting di pantai India dan menjadikan kota Goa yang teeletak di pantai India sebagai pusat kekuasaanya. Pada tahun 1511, Malaka berhasil direbut oleh Portugis dibawah Pimpinan Alphonso d’Albuquerque. Sejak itu, kerajaan Malaka jatuh ketangan bangsa Portugis. Pengaruh lainnya seperti bangsa Portugis yang turut memperkaya jumlah kata-kata dalam bangsa Indonesia, seperti kata San Domingo (Tuhan yang keramat), gereja, mentega, mona (dari kata madona), sinyo (dari kata signor) dan sebagainya. Adapun seni musik yang ada di Indonesia adalah seni musik keroncong yang beasal dari seni musik Portugis. Keroncong berbahasa Portugis yang pernah terkenal di Indonesia adalah keroncong Morisco.

Pada tahun 1511 Portugis berhasil menguasai Malaka. Selanjutnya, Portugis mengadakan hubungan dagang dengan Maluku yang merupakan daerah sumber utama rempah-rempah di Indonesia.Pada tahun 1512 Alfonso de Albuquerque mengirimkan beberapa buahkapal ke Maluku. Pada awalnya masyarakat Maluku menyambut baik dan salingberebut menanamkan pengaruh kepada Portugis. Hal ini dimaksudkan agar Portugis dapat membeli rempah-rempah dan membantu masyarakat Malukumenghadapi musuh-musuhnya.

Pada saat itu, Kesultanan Ternate di Maluku diperintah oleh Kaicil Darus.Sultan Ternate itu meminta bantuan Portugis untuk mendirikan benteng diTernate. Pendirian benteng tersebut bertujuan agar Ternate terhindar darikemungkinan serangan dari daerah lain. Pada tahun 1522, Portugismengabulkan permintaan Sultan Ternate dengan mendirikan Benteng Saint John . Pendirian benteng tersebut harus dibayar mahal oleh Ternate karenaPortugis menuntut imbalan berupa hak monopoli perdagangan rempah-rempahdi Ternate. Sultan Ternate terpaksa harus menandatangani perjanjian monopoliperdagangan dengan Portugis.

Perjanjian monopoli perdagangan rempah-rempah tersebut ternyatamenimbulkan kesengsaraan. Rakyat tidak dapat menjual rempah-rempah secarabebas. Portugis telah menetapkan harga rempah-rempah yang dimiliki rakyatdengan harga yang murah. Di samping itu, rakyat Ternate harus menjualrempah-rempah kepada Portugis. Hal itu merugikan rakyat Ternate, tetapimemberikan keuntungan yang sangat besar bagi Portugis. Oleh karena itu, terjadipermusuhan antara rakyat Ternate dan Portugis.Selain mengadakan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku,Portugis juga aktif menyebarkan agama Katolik. Salah seorang tokoh Portugis yang giat menyebarkan agama Katolik adalah Fransiscus Xaverius.

Kekuasaan VOC (Kompeni Belanda) di Indonesia
Besarnya keuntungan yang diperoleh dari perdagangan rempah-rempah dan didukung oleh pengusiran bangsa Portugis menyebabkan para penguasa di Belanda bersaing untuk berlayar ke Maluku. Harga rempah-rempah di Eropa pun semakin tidak terkendali. Melihat kenyataan ini.

Parlemen Belanda atau Staten Generaal mengusulkan agar semua perusahaan pelayaran membentuk sebuah kongsi dagang pada tahun 1598. Mulai tahun 1602 Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah yang kini adalah Indonesia, dengan memanfaatkan perpecahan di antara kerajaan-kerajaan kecil yang telah menggantikan Majapahit.

Pada abad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602.

Pembentukan VOC dibantu oleh pemerintah Belanda di bawah Van Oldenbarneveldt. VOC diberi hak istimewa, sehingga menjadi badan yang berdaulat. Hak istimewa itu:
a. Hak monopoli untuk berdagang antara Amerika Serikat dengan Afrika
b. Hak memelihara angkatan perang, berperang, mendirikan benteng-benteng dan menjajah
c. Hak untuk mengangkat pegawai-pegawainya
d. Hak untuk memberikan pengadilan
e. Hak untuk mencetak dan mengedarkan uang sendiri

VOC mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi terhadap pemerintah Belanda, yaitu:
a. Bertanggung jawab kepada Staten General (badan Perwakilan)
b. Pada waktu perang harus membantu pemerintah Belanda dengan uang dan angkutan perang
c. Indonesia dibawah pemerintahan Kerajaan Belanda Pada akhir abad ke-18.

Pada tanggal 30 Mei 1619, Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen, mengirimkan tujuh belas buah kapal untuk menyerang dan memukul mundur pasukan Banten. Pasukan Kerajaan Banten berhasil dikalahkan. Jan Pieterzon Coen kemudian membangun kembali kota Jayakarta dan memberinya nama Batavia. Batavia dijadikan pusat perdagangan dan kekuasaan Belanda dan Batavia juga resmi dijadikan markas besar VOC di Indonesia. Dalam menghadapi kerajaan-kerajaan Indonesia, Belanda melancarkan politik adu domba (devide et impera).

Pada akhir abad ke-18, VOC mengalami kemunduran akibat kerugian yang sangat besar dan utang yang dimilikinya berjumlah sangat besar. Hal ini juga diakibatkan oleh:
1. persaingan dagang dari bnagsa Perancis dan Inggris,
2. penduduk Indonesia, terutama Jawa telah menjadi miskin, sehingga tidak mampu membeli   barang-barang yang dijual oleh VOC
3. perdagangan gelap merajalela dan menerobos monopoli perdagangan VOC,
4. pegawai-pegawai VOC banyak melakukan korupsi dan kecurangan-kecurangan akibat dari gaji yang diterimanya terlalu kecil,
5. VOC mengeluarkan anggaran belanja yang cukup besar untuk memelihara tentara dan pegawai-pegawai yang jumlahnya cukup besar untu memenuhi pegawai daerah-daerah yang baru dikuasai, terutama di Jawa dan Madura.

Maka pada tahun 1799, VOC akhirnya dibubarkan. Pada tahun 1807, Republik Bataafsche dihapuskan oleh Kaisar Napoleon Bonaparte dan diganti bentuknya menjadi Kerajaan Holland di bawah pemerintahan Raja Louis Napoleon Bonaparte (adik dari Kaisar Napoleon).

Pemerintahan Daendels di Indoneisa (1808-1811)
Pada tahun 1808, Daendles diangkat menjadi gubernur Jendral wilayah ini Indonesia. Tugas utamanya adalah untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan pasukan Inggris. Dalam upaya tersebut, perhatian Daendels hanyalah terhadap pertahanan dan ketentaraan.
1. Membangun ketentaraan
ntuk memperkuat angkatan perangnya, Daendels melatih orang-orang Indonesia, karena tidak mungkin ia menambah tentaranya dari orang-orang belanda yang didatangkan dari negeri belanda. Pembangunan angkatan perangnya ini dilengkapi dengan pendirian tangsi-tangsi atau benteng-benteng, pabrik mesiu dan juga rumah sakit tentara.

2. Membangun jalan pos
 Daendels memerintahkan pembuatan jalan pos dari Anyer di Jawa Barat sampai Panarukan di Jawa Timur. Pembuatan jalan ini menggunakan tenaga rakyat dengan sistem kerja paksa atau kerja rodi, hingga selesainya pembuatan jalan itu. Untuk orang Belanda, pekerjaan menyelesaikan pembuatan jalan pos ini merupakan keberhasilan yang gemilang, tetapi lain halnya dengan bangsa Indonesia, di mana setiap jengkal jalan itu merupakan peringatan terhadap rintihan dan jeritan jiwa orang yang mati dalam pembuatan jalan tersebut.

3. Membangun pelabuhan
Daendels memerintahkan pembuatan perahu-perahu kecil, karena perahu-perahu perang Belanda tidak mungkin dikirim dari negeri Belanda ke Indonesia. Selanjutnya pembuatan pelabuhan-pelabuhan tempat bersandarnya perahu-perahu perang itu, Daendels merencanakan di daerah Banten Selatan. Pembuatan pelabuhan itu telah memakan ribuan korban jiwa orang Indonesia di Banten akibat dari penyakit malaria yang menyerang para pekerja paksa. Akhirnya pembuatan pelabuhan itu tidak selesai.

Pada tahun 1810 Kerajaan Belanda di bawah pemerintahan Raja Louis Napoleon Bonaparte dihapuskan oleh Kaisar Napoleon Bonaparte. Negeri Belanda dijadikan wilayah kekuasaan Perancis. Dengan demikian, wilayah jajahannya di Indonesia secara otomatis menjadi wilayah jajahan Perancis. Napoleon menganggap bahwa tindakan Daendels sangat otokratis (otoriter), maka pada tahun 1811 ia dipanggil kembali ke negeri Belanda dan digantikan oleh Gubernur Jenderal Jansens.

Kekuasaan Inggris di Indonesia
Inggris merupakan bangsa Eropa yang paling banyak memiliki daerah jajahan yaitu benua Amerika bagian Utara, Australia, Afrika maupun Asia. Jajahan Inggris di Asia terutama adalah India. Semenanjung Malaya. Setelah VOC jatuh bangkrut pada akhir abad ke-18, Inggris berkuasa di Indonesia sejak tahun 1811 setelah melakukan serangan darat dan laut atas wilayah kekuasaan Belanda di Pulau Jawa. Akibat serangan tersebut, Belanda menyerah tanpa syarat dan harus memberikan wilayah kekuasaannya kepada pemerintah Inggris.

Bangsa Inggris mendirikan perusahaan dagang bernama EIC ( East India Company) pada tahun 1600 yang bermarkas di Calanta India. Pengaruh Inggris di Indonesia berupa pemerintahan Raffles pada tahun 1811-1816. Kebijakan penting yang ditempuh Raffles selama berkuasa di Indonesia adalah membagi pulau Jawa menjadi 16 daerah karesidenan. Pembagian ini dimaksudkan untuk mempermudah pengaruh dan pengawasan terhadap pulau Jawa. Raffles juga membentuk system pemerintahan dan pengadilan dengan merujuk pada system di Inggris.

Pada pertengahan tahun 1811 armada Inggris dibawah Jendral Auchmuty mendarat di Pulau Jawa yaitu di Batavia. Tentara Belanda tidak mampu menghadapi tentara Inggris sehingga mereka mundur ke Semarang. Tetapiakhirnya Belanda menyerah di sebuah Desa di wilayah Semarang yaitu di Desa Tuntang. Setelah Belanda menyerah kepada Inggris maka Belanda harus menandatangani Kapitulasi Tuntang artinya penyerahan Tuntang pada tahun1811.

Perjanjian Kapitulasi Tuntang
Isi dari Kapitulasi Tuntang, antara lain:
1.Pulau Jawa dan daerah sekitarnya yang dikuasai Belanda diserahkan kepada Inggris
2.semua Tentara Belanda menjadi tawanan Inggris
3.orang-orang Belanda dapat dipekerjakan dalam pemerintahan Inggris.

Sejak itu Indonesia dikuasai oleh Inggris. Sebagai Gubernur Jendral Inggris di Indonesia diangkat Thomas Stamford Raffles (1811 – 1816). Tugas Rafflesdi Indonesia adalah mengatur pemerintahan dan peningkatan perdagangan. Pemerintahan Raffles didasarkan atas prinsip-prinsip liberal, jadi politik kolonial yang ingin diwujudkannya adalah kebebasan dan kepastian hukum. Prinsip kebebasan menanam dan perdagangan yang menjamin produksi dan ekspor. Raffles bermaksud menerapkan politk kolonial seperti yang dijalankan Inggris di India yaitu sistem pajak tanah.

Kekuasaan Raffles di Indonesia berakhir pada tahun 1814 setelah terjadi Konvensi London antara Inggris dan Belanda dikarenakan Napoleon Bonaparte berhasil dikalahkan dalam pertempuran di Leipzig dan kemudian tertangkap. Isi dari konvensi London tersebut adalah bahwasanya inggris diharuskan mengembalikan semua wilayah jajahan Belanda yang telah dikuasainya. Inggris menyerahkan kekuasaan kepada Belanda pada tahun 1816 dan pada akhirnya wilayah Nusantara-Indonesia kembali dikuasai oleh pemerintahan Belanda.

Kekuasaan Bangsa Belanda Di Indonesia
Belanda kembali menguasai wilayah Indonesia berdasarkan Konvensi London tahun 1814. Pemerintahan kolonial Belanda selanjutnya dipegang oleh sebuah komisi yang beranggotakan Van der Capellen, Elout, dan Buyskes. Van der Capellen mempunyai peranan paling besar, ia merusaha mengeruk keuntungan sebanyak mungkin. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk membayar hutang-hutang Belanda yang cukup besar selama perang. Kebijakan yang di ambil oleh Van der Capellen salah satunya adalah dengan menyewakan tanah kepada penguasa-penguasa Eropa. Selanjutnya pemerintah kolonial Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jendral Van de Bosch mengambil kebijakan tanam paksa pada tahun 1830 yang dikenal sebagai cultuurstelsel dalam bahasa Belanda yang mulai diterapkan di Indonesia.

Imperealisme adalah sistem untuk menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain. Imperealisme tua VOC di abad 17 dan 18, dan imperealisme modern Belanda di abad 19 dan 20 telah mengakibatkan Indonesia menjadi jajahan Belanda selama beberapa abad, pelabuhan demi pelabuhan, daerah demi daerah, pulau demi pulau, sampai seluruh nusantara di kuasai Belanda. Akibat penjajahan ini rakyat Indonesia menjadi mundur di segala lapangan penghidupan, baik di bidang perekonomian maupun di bidang kebudayaan.

Rakyat Indonesia yang begitu lama tertindas dan sangat miskin itu menjadi rakyat yang merasa dirinya rendah. Keadaan rakyat yang sengsara seperti demikian ini dimulai dengan datangnya pedagang-pedagang Belanda bersenjata sejak abad ke-16 dan membeli rempah-rempah hasil bumi Indonesia yaitu Pala di Banda, merica di Sumatra dan Jawa, serta cengkeh di Maluku. Perdagangan yang mereka lakukan berubah dengan menggunakan kekerasan senjata. Perdagangan dengan cara pemaksaan ini menjadikan penduduk setempat menjadi budak, seperti di Banda tahun 1622. Petualangan-petualangan hongi yang dilakukan oleh Belanda di Maluku menghancurkan pohon-pohon cengkeh milik rakyat Ambon, dengan maksud menguasai pasar cengkeh dunia.

Dengan politik devide et impera Belanda kemudian dapat menaklukkan kerajaan-demi kerajaan di Indonesia yang memang sudah terpecah belah. Perdagangan Belanda di Indonesia di motori oleh maskapai dagang Belanda yang bernama VOC (Verenigde Indisce Compagnie) yang lebih terkenal dengan istilah kompeni. VOC didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 dan berlangsung sampai tahun 1799. Kemudian setelah VOC dibubarkan, perdagangan masa colonial ini diambil alih oleh pemerintah kolonial Belanda sampai tahun 1942.

Kondisi Masyarakat Indonesia Masa Kolonial
Masa perdagangan masa colonial menimbulkan efek yang sangat kontradiktif, di satu pihak yaitu para pedagang Belanda mendatangkan keuntungan yang sangat besar, dan di pihak lain masyarakat indonesia mengalami kehidupan yang sangat memperihatinkan.
Karena kekurangan uang, Pemerintah Belanda pada tahun 1830 diadakan system tanam paksa (cultuurstelsel) dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Rakyat harus mengerjakan sebagian tanahnya untuk tanaman eksport,
2. Bagian yang diperuntukkan buat tanaman eksport itu adalah 1/5 dari tanah suatu desa,
3. Tanaman yang akan dieksport tidak boleh melebihi tanaman padi,
4. Bagian yang 1/5 itu tidak dibebani pajak tanah,
5. Hasil tanaman ini diserahkan ke Pemerintah Belanda,
6. Kegagalan panen ditanggung pemerintah asal penyebabnya bukan karena rakyat yang malas,
7. Para petani diawasi sendiri oleh para kepala desa, dan petugas Belanda akan mengawasi pekerjaan para kepala desa,
8. Buat tanaman gula pekerjaan boleh dibagi-bagi, dan
9. Kesulitan harus diatasi dalam hubungan dengan pembayaran pajak tanah.
Sistem perkebunan yang dilaksanakan di Pulau Jawa, Manado, dan Sumatra Barat dalam prakteknya membikin rakyat sengsara. Kerja rodi dan korupsi yang dilakukan oleh para pegawai pemerintah Belanda semakin membuat rakyat sengsara.

Itulah ulasan mengenai perkembangan kekuasaan bangsa eropa di indonesia semoga bermanfaat :)
Jangan lupa share ya :)

Tuesday, November 28, 2017

Latar Belakang Yang Memicu Kedatangan Bangsa Eropa ( Barat ) dan Bangsa Jepang ( Asia ) ke Indonesia Secara Singkat

latar belakang yang memicu kedatangan bangsa eropa ( barat ) dan bangsa jepang ( asia ) ke indonesia secara singkat - .Selamat datang di loker ilmu, pada kali ini kita akan membahas latar belakang yang memicu kedatangan bangsa eropa ( barat ) dan bangsa jepang ( asia ) ke indonesia untuk lebih jelasnya simak di bawah ini.

Latar belakang masuknya bangsa Eropa ke Indonesia
Jatuhnya konstantinopel (Ibu Kota kerajaan Romawi Timur) ke tangan kekuasaan Turki Usmani tahun 1453, maka berakhirlah kekuasaan kerajaan Romawi Timur. Berakibat tertutupnya perdagangan di Laut Tengah bagi orang-orang Eropa. Bangsa Turki menjalankan politik yang mempersulit pedagang Eropa yang beroperasi di daerah kekuasaanya yang menyebabkan perdagangan antara dunia timur dengan Eropa menjadi mundur, sehingga barang-barang yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang Eropa menjadi berkurang di pasaran Eropa, terutama rempah-rempah.

Turki melarang bangsa-bangsa Eropa untuk datang dan berdagang di Konstantinopel. Jatuhnya kota dagang Konstantinopelke tangan Turki akibat perang Salib menyebabkan terputusnya hubungan perdagangan antara Eropa dengan Asia Barat yang berakibat rempah-rempah menjadi langka dan sulit di cari dipasaran Eropa. Kelangkaan rempah-rempah inilah yang mendorong bangsa-bangsa Eropa berusaha mencari sumber utama rempah-rempah yang ada di Indonesia.
Secara umum kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Indonesia dilatarbelakangi oleh :
a. Jatuhnya Konstantinopeltahun 1453 ke tangan bangsa Turki.
b. Kemajuan ilmu dan teknologi.
b. Keinginan untuk membuktikan bahwa bumi itu bulat
c. Adanya bukuImago Mundi yang menceritakan tentang perjalanan Marcopolo ke dunia timur yang kaya akan rempah-rempah dan emas
d. Adanya semangat Reconquesta: semangat pembalasan terhadap kekuasaan Islam.
e.Keinginan mencari daerah penghasil rempah-rempah.

Tujuan Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia
1. Sebelum abad ke 18( Imperialisme Kuno )

Pada saat itu kedatangan bangsa Eropa di dorong adanya semangat 3 G yaitu :
a. Gold (kekayaan )mencarilogam mulia, emas dan rempah-rempah.
b. Gospel ( penyebaran agama Nasrani )
c. Glory ( kejayaan ) mencari daerah jajahan sebanyak-banyaknya.

2. Setelah abad ke 18( Imperialisme Modern )
Imperialisme Modern mempunyai tujuan :
a. Mendapatkan bahan baku industrinya
b. Tempat / daerah pemasaran hasil industri
c. Mendapatkan tenaga kerja yang murah
d. Tempat menanamkan modal

Penjelajahan Bangsa Spanyol
Perjanjian Thordesillas (1492), Christopher Collumbus mengajukan permohonan bantuan kepada raja Spanyol untuk berlayar mencari sumber rempah-rempah di dunia timur. Kepulauan Bahama telah dikenal dengan sebutan Hindia Barat oleh orang-orang Eropa. Pada mulanya para penjelajah (explorer) bagsa Eropa bertujuan untuk berdagang dan mencari sumber rempahrempah.

Namun demikian, akhirnya mereka melakukan penjajahan dan pendudukan terhadap wilayah-wilayah yang disinggahinya. Tampak pada peta jalur pelayaran para penjajah Eropa yang melintas di kepulauan Nusantara. Christopher Columbus (1451-1506) dikenal sebagai navigator dan pelaut yang ulung. Ia terkenal dengan pelayarannya melintasi Samudra Atlantik untuk mencapai jalur baru ke benua Asia tapi ia tidak bisa menyelesaikan cita-citanya tersebut.

Sejak Collumbus menemukan kepulauan, maka pelau-pelaut berikutnya hanya sampai berlayar di kepulauan ini seperti:
1. Cortez menduduki Mexico pada tahun 1519 dengan menaklukan suku Indian yaitu kerajaan Aztec dan suku maya di Yucatan.
2. Pizzaro, pada tahun 1530 menaklukan kerajaan Indian di Peru yang bernama Kerajaan Inca.

Penjelajahan Bangsa Portugis
Pada tahun 1498, raja portugis mengirim ekspedisinya dibawah pimpinan Vasco Da Gama. Ekspedisi ini berhasil mendarat di Kalkuta (India) tahun 1498. Di daerah para pelaut Portugis mendapat rempah-rempah dari para pedagang untuk dibawa ke negerinya. Pada tahun 1511, dari India bangsa Portugis mengirim ekspedisinya dibawah pimpinan Alphonso d’Albuquerque, mengikuti perjalanan para pedagang Islam.

Malaka pusat perdagangan Islam di Asia Tenggara. Dari Malaka itu bangsa Portugis melanjutkan pelayarannya ke arah timur untuk mendapatkan sendiri
rempah-rempah yang ada dikepulauan Maluku. Akhirnya bangsa Portugis tiba di Ternate (Maluku) tahun 1512. Perang yang terjadi antara Kerajaan Ternate dengan Tidore, juga merupakan perang antara bangsa kulit putih yaitu antara bangsa Spanyol dengan Portugis.

Untuk menyelesaikan perkaitan kedua bangsa kulit putih itu, Paus turun tangan dan pada tahun 1521 dilakukan perjanjian Saragossa (Zaragoza). Isi perjanjiannya:

a. Bumi ini dibagi atas dua pengaruh, yaitu pengaruh bangsa Spanyol dan Portugis
b. Wilayah kekuasaan Spanyol membentang dari Mexico ke arah barat sampai kepulauan Filiphina dan wilayah kekuasaan Portugis membentang dari Brazillia ke arah timur sampai kepulauan Maluku

kedatangan Bangsa Belanda di Indonesia
Sejak zaman dahulu Indonesia terkenal kaya akan rempah-rempah yang merupakan barang dagangan penting di Eropa. Pada saat itu orang-orang Eropa membeli rempah-rempah dari Indonesia di kota-kota dagang di sekitar Laut Tengah, terutama di Konstantinopel.

Dibawah pimpinan Cornelis De Houtman, bangsa Belanda berhasil mendarat di pelabuhan Banten pada tahun 1596,tetapi kedatangannya tidak diterima oleh rakyat Banten. Ekspedisi ke 2 di pimpin Yacub Van Neck dan berhasil membawa rempah-rempah sehingga mendorong kapal- kapal dagang Belanda untuk datang ke Indonesia.

Untuk menghindari terjadinya persaingan sesama pedagang Belanda maka pada tahun 1602 di bentuklah VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) di Ambon.Sebagai Gubernur Jenderal diangkat Pieter Both.
VOC punya hak istimewa ( Octroi ) yang berupa :
a. Hak memonopoli perdagangan
b. Hak memiliki tentara dan mendirikan Benteng
c. Hak mengadakan perjanjian dengan penguasa / raja-raja setempat
d. Hak memiliki mata uang sendiri

Dalam rangka menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku, VOC berusaha melakukan monopoli perdagangan dengan mengeluarkan peraturan sebagai berikut :
a. Rakyat Maluku di larang menjual rempah-rempah kepada pedagang lain kecuali VOC
b. Jumlah tanaman rempah-rempah ditentukan oleh VOC
c. Tempat menanam rempah-rempah ditentukan oleh VOC

Agar dalam pelaksanaan monopoli ditaati rakyat Maluku maka VOC melakukan cara-cara sebagai berikut :
a. Pelayaran Hongi yaitu pelayaran dengan menggunakan perahu kora-kora yang dipersenjatai guna mengawasi pelaksanaan monopoli
b. Hak Ekstirpasi yaitu hak untuk membinasaan tanaman rempah-rempah yang melebihi ketentuan.

Pada tahun 1792 di Eropa terjadi perang Koalisi, Belanda saat itu memihak / sekutu Prancis. Mulai saat itu kedudukan Belanda di Indonesia mulai mendapat ancaman dari Inggris. Dibawah pimpinan Lord Minto sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Calcuta dikirimkanlah ekspedisi untuk merebut Indonesia dari Belanda. Pada tahun 1811 Inggris berhasil merebut kekuasan Belanda di Indonesia dan kekuasaan Iggrisada dibawah pimpinan Raffles.Berdasar Konvensi London ( Convention of London ) tahun 1814, Indonesia diserahkan kembali oleh Inggris kepada Belanda.

Tahun 1830 Pemerintah Kolonial Belanda mengalami kesulitan keuangan akibat perang kemerdekaan Belgia dan perang Diponegoro. Oleh sebab itu Van Den Bosch mengusulkan kebijakan yang disebut Cultuur Stelsel atau sistem tanam paksa. Tujuan utamanya yaitu untuk memperoleh pendapatan yang besar dengan mewajibkan menanam tanaman dagang yang laku dan dibutuhkan dipasaran Eropa.

Adapun pokok-pokok sistem tanam paksa adalah :
a. Rakyat wajib menyerahkan seperlima dari lahan garapannya untuk ditanami tanaman wajib yang berkwalitas eksport
b. Lahan yang disediakan wajib dibebaskan dari pembayaran pajak tanah.
c. Hasil panen tanaman wajib harus diserahkan kepada pemerintah kolonial Belanda.Setiap kelebihanhasil panen dari jumlah pajak akan diberikan kepada rakyat.
d. Tenaga dan waktu yang diperlukan untuk menggarap tanaman wajib tidak boleh melebihi tenaga dan waktu yang diperlukan untuk tanaman padi.
e. Mereka yang tidak punya tanah wajib bekerja selama 66 hari setahun diperkebunan milik pemerintah.
f. Kegagalan panen tanaman wajib akan menjadi tanggung jawab pemerintah.

Dalam kenyataannya pelaksanaan Cultuurstelsel banyak terjadi penyimpangan diantaranya adalah :
a. Rakyat lebih banyak mencurahkan perhatian, tenaga, dan waktunya untuk mengurusi tanaman wajib sehingga tidak sempat mengerjakan sawah.
b. Rakyat yang tidak memiliki tanah harus bekerja melebihi waktu yang ditentukan.
c. Jatah tanah untuk tanaman wajib melebihi seperlima lahan garapan.
d. Setiap kelebihan hasil panen tidak dibayarkan kemlai kepada rakyat.
e. Kegagaan panen tanaman wajib tetap menjadi tanggung jawab rakyat.

Akibat pelaksanaan tanam paksa adalah.
1. Bagi Pemerintah Kolonial Belanda
a. Kesulitan keuangan bisa diatasi
b. Pemerintah Belanda menalami surplus dibidang keuangan
c. Perusahaan transportasi Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) mendapat keuntungan melimpah.
2. Bagi rakyat Indonesia
a. Rakyat dibeberapa daerah tertimpa bahaya kelaparan.
b. Banyak penduduk yang melarikan diri meninggalkan desanya.
c. Terjadinya kegagalan panen.
d. Jumlah penduduk di Jawa berkurang.

Kedatangan bangsa Inggris di indonesia
Di India Timur, para pedagang Inggris mendirikan kongsi dagang yakni East India Company (EIC) pada tahun 1600, dengan India sebagai daerah operasinya. Pusat kekuasaan EIC adalah di Kalkuta (India) dan dari kota inilah Inggris meluaskan wilayahnya ke Asia Tenggara.

Lambang VOC. Persekutuan dagang Hindia Timur ini berdiri pada tahun 1602 yang juga lebih sering disebut oleh bangsa Indonesia dengan Kompani. Ada juga piring yang dicap lambang VOC. Huruf V besar, lalu huruf O dan C pada masing-masing sisi huruf V.

Dibawah Gubernur Jenderal Lord Minto yang berkedudukan di Kalkuta (India) dibentuk Ekspedisi Inggris untuk merebut daerah-daerah kekuasaan Belanda yang ada di wilayah Indonesia. Pada tahun 1811, Thomas Stamford raffles telah berhasil merebut seluruh wilayah kekuasaan Belanda di Indonesia.

Latar belakang kedatangan bangsa Jepang ke Indonesia
1. Perubahan besar-besaran yang dilakukan Jepang pada masa pemerintahan Tenno Meiji yang menempatkan Jepang sebagai negara Industri modren yang sejajar dengan bangsa Barat. Pembaharuan yang disebut Restorasi Meiji membawa akibat perubahan haluan politik Jepang dari menutup diri terhadap pengaruh asing menjadi Imperalis.

2. Berdasarkan kebijakan Imperalis Hakko-ichu-u. menjadikan Jepang bermaksud menjadikan Asia sebagai kesatuan wilayah dibawa pemimpinnya untuk mencapai maksud Jepang membangun perasaan persaudaraan Asia Jepang menyebut dirinya saudara tua, mempropagandakan perang Pasifik sebagai perang Asia Timur Raya dan melancarkan gerakan Tiga A yaitu "Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia".

3. Sebagai negara industri dan militer, Jepang membutuhkan bahan mentah untuk industri dan mesin perang. Dengan kekayaan sumber daya alamnya, Indonesia mampu memenuhi kebutuhan Jepang tersebut.

4. Sentimen terhadap Imperialisme Barat dikawasan Asia turut memicu Jepang untuk segera menduduki Indonesia yang dikuasi Belanda.

Itulah pembahasan mengenai latar belakang yang memicu kedatangan bangsa eropa ( barat ) dan bangsa jepang ( asia ) ke indonesia semoga dapat membantu sobat :)
Jangan lupa share ya :)